Setiap orangtua pasti berharap agar anak-anaknya dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik. Betapa bahagianya apabila anaknya ketika masih
bayi tidak rewel, mudah beradaptasi ketika diajak berkunjung ke rumah
saudara atau kenalan, apabila disapa keluarga tersenyum atau bahkan
langsung tertawa, tidak susah makan, atau tidak buang air besar dan
kecil (termasuk mengompol) sembarang waktu dan tempat. Alangkah
bahagianya para orangtua apabila anak-anaknya yang sudah menginjak usia
sekolah dapat bersekolah dengan baik, bisa bangun pagi-pagi, tidak
bermasalah dengan teman-temannya, rajin belajar, tidak suka berbohong,
sopan, suka menolong, patuh kepada orangtua dan guru, apalagi rajin pula
beribadah.
Namun, apabila
anak
tumbuh dan berkembang tidak sesuai dengan yang diharapkan, misalnya,
susah makan, rewel, mudah memberontak, atau kalau sang anak sudah mulai
besar ia suka berbohong, mencuri, menakali teman, atau malas belajar,
tidak jarang orangtua kebingungan bagaimana cara mengatasinya. Ketika
sekali atau dua kali orangtua menasihati anaknya dan anaknya tetap tidak
berubah, tak sedikit pula orangtua yang justru memarahi anaknya,
memberikan hukuman, atau bahkan memukul sang anak. Ketika keadaan sudah
begini, tidak banyak dari orangtua yang bisa berpikir dengan tenang
untuk mencari jawab mengapa anaknya menjadi bermasalah.
Anak bermasalah yang dimaksudkan di sini adalah anak yang mempunyai
perilaku tidak sesuai dengan keinginan atau harapan orangtua yang
berkesesuaian dengan nilai-nilai yang dianut oleh orangtua, keluarga,
atau bahkan lingkungan. Di dalam menangani anak bermasalah apakah
dibenarkan melalui cara, misalnya, memarahi anak, mengurung anak, atau
bahkan memukulinya? Sudah tentu, cara-cara tersebut tidak dapat
dibenarkan, di samping termasuk “kejahatan terhadap anak”, cara tersebut
juga tidak efektif untuk mengubah perilaku anak bermasalah menjadi
baik. Jika memang berubah menjadi baik, perubahan yang terjadi akan
menyimpan kesan buruk dalam diri anak, atau perubahan itu tidak
berlangsung lama karena tidak berangkat dari sebuah kesadaran.
Ada seorang anak yang suka mengambil uang orangtuanya secara
diam-diam (mencuri) untuk tambahan jajannya atau untuk bermain game
online di warnet (warung internet) dekat rumah. Pada saat orangtuanya
mengetahui bahwa yang mencuri uangnya adalah anaknya sendiri, maka sang
orangtua memarahi habis-habisan sang anak, bahkan memukulnya. Untuk
beberapa waktu sang anak anak memang jera dan tidak mau mencuri lagi
karena takut kepada orangtuanya. Namun, apakah perilaku bermasalah
anaknya selesai begitu saja? Ternyata, sang anak beralih untuk mengambil
uang temannya. Hal ini bisa terjadi barngkali sang anak berpikir jika
mengambil uang temannya lebih aman karena temannya tidak segalak
orangtuanya ketika marah.
Ada pula seorang anak yang mempunyai kebiasaan makan banyak.
Orangtuanya memarahinya dengan sangat karena sang orangtua tidak
menginginkan anaknya semakin bertambah berat badannya. Sang anak memang
telah mengalami berat badan yang berlebih alias kegemukan. Di depan
orangtua, sang anak memang makan secara normal sebagaimana kebiasaan
keluarga, yakni sehari makan sebanyak tiga kali. Namun, ketika
orangtuanya tidak di rumah atau ketika orangtuanya sedang tidak
melihatnya, sang anak mencuri-curi makanan (di rumahnya sendiri) dengan
memakanya secara cepat sebagaimana orang yang sudah tiga hari tidak
makan. Hal ini dilakukan sang anak agar dapat menyelesaikan makan
sesegera mungkin dan tidak ketahuan orangtuanya.
Dari dua contoh di atas, cara yang dilakukan orangtua dalam mengatasi
anaknya yang bermasalah ternyata tidak efektif. Sang anak memang
menuruti apa yang menjadi harapan orangtuanya, akan tetapi tidak
berangkat dari kesadarannya. Sang anak berubah karena takut kepada
orangtuanya yang memarahinya, membentaknya, atau bahkan memukulnya.
Menurut sebagian pemahaman para orangtua kita di zaman dahulu, cara
seperti ini adalah cara yang paling efektif, katanya. Tetapi, satu hal
yang harus diakui, cara seperti ini akan meninggalkan kesan yang
menakutkan pada diri sang anak. Bila sudah begini, ada hal yang
terkebiri pada diri sang anak, baik itu potensi, kemerdekaan, atau
bahkan sang anak malah belajar kekerasan dan kehilangan rasa kasih
sayang dalam dirinya.
Ada tiga prasyarat yang harus dipenuhi oleh setiap orangtua agar dapat mengatasi anaknya yang sedang bermasalah secara
efektif, yakni:
1. Bersikap Tenang
Orangtua yang panik atau malah kebingungan tidak akan bisa menyelesaikan
masalah yang terjadi pada anaknya dengan baik. Kepanikan ini biasanya
terjadi ketika sang orangtua tiba-tiba melihat sebuah kenyataan bahwa
anaknya ternyata bermasalah. Sungguh, sang orangtua tidak menyangka
sebelumnya akan ada kejadian yang tidak diinginkan menimpa anaknya. Di
sinilah dibutuhkan ketenangan agar dapat mengurai masalah dengan baik
dan mencari jalan keluarnya.
2. Berbuat Sepenuh Kasih dan Sayang
Hal yang paling penting di dalam mengatasi anak yang bermasalah adalah
berbuat sepenuh kasih dan sayang. Rasa kasih dan sayang ini hendaknya
mendasari setiap langkah yang ditempuh oleh orangtua dalam mengatasi
anaknya yang bermasalah. Jadi, bukan karena rasa malu, demi kehormatan
keluarga, apalagi didorong oleh kemarahan tertentu.
3. Memahami Anak Sebagai Pribadi yang Berkembang
Memahami anak sebagai pribadi yang berkembang yang dimaksudkan di sini
adalah setiap anak mempunyai tahapan demi tahapan dalam berkembang.
Sudah tentu, tahapan perkembangan anak sangat berbeda dengan cara
berpikir dan memahami segala sesuatu yang dimiliki orangtuanya. Dalam
hal ini, orangtua tidak bisa memaksakan kehendak terhadap anaknya agar
mengikuti cara berpikir dan memahami sesuatu sebagaimana orangtuanya.
Jika memang orangtuanya menghendaki sang anak melakukan apa yang menjadi
harapannya hendaknya disesuaikan dengan tahapan perkembangan sang anak.
Demikianlah tiga prasyarat yang harus dimiliki orangtua ketika akan
mengatasi masalah yang terjadi pada anaknya. Hal penting yang harus
dipahami adalah mengatasi masalah yang satu dengan yang lainnya tidak
jarang dibutuhkan pendekatan yang berbeda karena jenis dan penyebab
masalahnya pun berbeda. Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi segenap
orangtua agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara
menyenangkan dan sesuai dengan harapan orangtua dan keluarga.
NB: Catatan diatas sangat bagus diterapkan bagi setiap orangtua dalam mendidik. sebab dengan menulis hal seperti ini saya jg bisa belajar dan mengerti cara mendidik yg baik seperti apa... sebab meskipun saya sndri sekarang blm menjadi orangtua yang sesungguhnya tapi saya punya tanggung jawab yg besar dalam mendidik persekutuan Kaum Remaja saya yang ada di gereja,,, yang notabene karaktar mereka masih sangat labil... so, keterangan diatas bukan diperuntukan bagi anak yg masih umur kurang dari lima tahun, tetapi selama kita mempunyai anak atau anggota yang harus kita didik mjd pribadi yg lebih baik.... GB us...
Facebook (Herlina Sanda)