Kamis, 07 Februari 2013
Herlina Blog: Aku, bukanlah seperti yang kau ingini....
Herlina Blog: Aku, bukanlah seperti yang kau ingini....: *** Malam harinya... (6 Feb'13) Tidak tau mengapa malam itu menjadi malam yang menurutku seperti lain dari yang lain. Rasa ini i...
Aku, bukanlah seperti yang kau ingini....
*** Malam harinya... (6 Feb'13)
Tidak tau mengapa malam itu menjadi malam yang menurutku seperti lain dari yang lain. Rasa ini ingin cerita sesuatu kepadanya. aku mencoba untuk menghubunginya tapi apalah daya pulsa untuk menghubungi pun tidak cukup. ..,, tiba-tiba telfon pun berbunyi akupun mengangkatnya. satu hal yg timbul dalam hati, senang sekali sudah ditelfon darinya.
*****
Ada maksud untuk bercerita apa yang terjadi selama kegiatan hari itu, dan berharap diapun bisa merespon dengan baik. Tetapi tidak tau mengapa pembicaraan malam itu menjadi SEDIKIT sesuatu yang tidak menyenangkan, dan bisa dibilang untuk bercerita sepanjang kegiatan hari itu pun aku sedikit mengurunkan niatku.
Akupun terdiam dan bertanya dalam hati " apa yang terjadi"??//
detik demi detik pun terlewati, Dia sering bertanya "kenapa terdiam"?? aku hanya bilang tidak apa-apa. Dan diselang pembicaraan kamipun dia bercerita bahwa akan ada keluarganya yang akan menikah. Dia pun bercerita begini dan begitu, yang ujung dari cerita itu, ia merasa kecewa dengan orangtuanya sendiri, karena mungkin orangtuanya tidak mengangap dirinya. Saya pun hanya bilang kepadanya, jangan menganggap atau menjudge seseorang dengan melihat pangkal permasalahannya dulu. Diapun terus berbicara ini dan itu, dan semua-semua yang menurutnya kesal dihatinya. Akupun terdiam kembali dan berharap Dia bisa meresponi perkataanku tadi. Tapi alhasil semuanya sia-sia... Ibarat perkataanku pun tidak digubrisnya, padahal itu suatu harapan dari hatiku untuk bisa melihat hal positif dari semua kejadian itu. Akupun terdiam kembali...
*****
Berjalannya waktu detik demi detik, pembicaraan pun berlanjut dari masalah hari sebelumnya dimana,Dia menelfonku dan bertanya apa yang sedang aku kerjakan sore itu ditempat pekerjaan. Aku hanya bilang masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Diapun bertanya lagi kerjain apa? balasku "masih ada yg dikerjakan, ada deh, mau tauuu aja!>. mungkin kalimat2 itu yg membuatnya merasa kecewa dan dia merasa masih ada yang aku rahasiakan selama hubungan ini terjalin. Salahkah aku berkata demikian padanya, sehingga Dia harus meluapkan kekecewaannya yang membuatku merasa terpojok sekali malam itu? Aku tak bisa berkata-kata lagi malam itu. Aku hanya bisa mendengar apa yang dia bicarakan tentang kekecewaanya.... aku berharap masalah apapun itu bisa dibicarakan baik2, apa masalahnya, dan kenapa bisa. Tapi bukan itu yang kudapatkan. aku hanya bisa terdiam, dan menahan air mata supaya tidak jatuh. tapi apalah daya seorang wanita tidak bisa menahan rasa tangis itu, dan pecah begitu saja tanpa terkontrol... (tau kah kamu semalam aku menangis???)....
*****
Berharap suasana sedikit tenang. akupun meminta maaf, entah maaf itu diterima atau tidak. yang jelas kalimat itu yg ingin sekali aku ucapkan.
Mungkin aku bukanlah wanita seperti yang dia harapkan. tapi satu hal yang selalu aku pegang. aku berharap kamulah orang menjadi sesuatu yang aku harapkan ditengah segala kekuranganmu, bukan kelebihanmu.
aku hanya melihat dari hari2 yang telah kita lalui bersama, begitu banyak kekurangannya yang harus dibenahi. aku sadar aku bukan wanita yang sempurna seperti yang engkau ingini. Tapi satu hal juga yang bisa kupegang kalaupun aku bisa sempurna karena ada 2 jiwa yang bisa menyempurnakannya.
Terima kasih buat perhatianmu....
Terima kasih buat hari-harimu.....
Terima kasih buat kasih sayangmu.....
Terima kasih buat segalanya.....
Aku hanya berusaha menjadi diriku yang apa adanya, tidak menyimpan rahasia (karena aku tau ada kamu untuk aku bisa berbagi,)aku berharap dirinya cukup percaya saja karena dengan percaya kebohongan , ataupun rahasia itu tidak akan ada... itu lah janji yang pernah aku ucapkan kepada dirinya. (kuharap dirinya masih mengingatnya)...
## Semua yang aku alami, dan lakukan aku percaya kurang lebihnya pasti Tuhan perhitungkan##...
TQ God aku bisa kuat dan tegar karena-Mu...
By. Herlina Sanda
Rabu, 16 Januari 2013
Ku 'Tak Berhenti Percaya
Lagu ini sangat memberkati sekali, suatu pengakuan iman dari kita bahwa kita tidak akan pernah menyerah mengikut Kristus.
Tak akan berhenti percaya, itulah yang Tuhan inginkan sebagai anak Tuhan...
God bless us..
Jumat, 09 November 2012
Cara Mendidik Anak yang Bermasalah dengan benar...
Setiap orangtua pasti berharap agar anak-anaknya dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik. Betapa bahagianya apabila anaknya ketika masih
bayi tidak rewel, mudah beradaptasi ketika diajak berkunjung ke rumah
saudara atau kenalan, apabila disapa keluarga tersenyum atau bahkan
langsung tertawa, tidak susah makan, atau tidak buang air besar dan
kecil (termasuk mengompol) sembarang waktu dan tempat. Alangkah
bahagianya para orangtua apabila anak-anaknya yang sudah menginjak usia
sekolah dapat bersekolah dengan baik, bisa bangun pagi-pagi, tidak
bermasalah dengan teman-temannya, rajin belajar, tidak suka berbohong,
sopan, suka menolong, patuh kepada orangtua dan guru, apalagi rajin pula
beribadah.
Namun, apabila anak tumbuh dan berkembang tidak sesuai dengan yang diharapkan, misalnya, susah makan, rewel, mudah memberontak, atau kalau sang anak sudah mulai besar ia suka berbohong, mencuri, menakali teman, atau malas belajar, tidak jarang orangtua kebingungan bagaimana cara mengatasinya. Ketika sekali atau dua kali orangtua menasihati anaknya dan anaknya tetap tidak berubah, tak sedikit pula orangtua yang justru memarahi anaknya, memberikan hukuman, atau bahkan memukul sang anak. Ketika keadaan sudah begini, tidak banyak dari orangtua yang bisa berpikir dengan tenang untuk mencari jawab mengapa anaknya menjadi bermasalah.
Anak bermasalah yang dimaksudkan di sini adalah anak yang mempunyai perilaku tidak sesuai dengan keinginan atau harapan orangtua yang berkesesuaian dengan nilai-nilai yang dianut oleh orangtua, keluarga, atau bahkan lingkungan. Di dalam menangani anak bermasalah apakah dibenarkan melalui cara, misalnya, memarahi anak, mengurung anak, atau bahkan memukulinya? Sudah tentu, cara-cara tersebut tidak dapat dibenarkan, di samping termasuk “kejahatan terhadap anak”, cara tersebut juga tidak efektif untuk mengubah perilaku anak bermasalah menjadi baik. Jika memang berubah menjadi baik, perubahan yang terjadi akan menyimpan kesan buruk dalam diri anak, atau perubahan itu tidak berlangsung lama karena tidak berangkat dari sebuah kesadaran.
Ada seorang anak yang suka mengambil uang orangtuanya secara diam-diam (mencuri) untuk tambahan jajannya atau untuk bermain game online di warnet (warung internet) dekat rumah. Pada saat orangtuanya mengetahui bahwa yang mencuri uangnya adalah anaknya sendiri, maka sang orangtua memarahi habis-habisan sang anak, bahkan memukulnya. Untuk beberapa waktu sang anak anak memang jera dan tidak mau mencuri lagi karena takut kepada orangtuanya. Namun, apakah perilaku bermasalah anaknya selesai begitu saja? Ternyata, sang anak beralih untuk mengambil uang temannya. Hal ini bisa terjadi barngkali sang anak berpikir jika mengambil uang temannya lebih aman karena temannya tidak segalak orangtuanya ketika marah.
Ada pula seorang anak yang mempunyai kebiasaan makan banyak. Orangtuanya memarahinya dengan sangat karena sang orangtua tidak menginginkan anaknya semakin bertambah berat badannya. Sang anak memang telah mengalami berat badan yang berlebih alias kegemukan. Di depan orangtua, sang anak memang makan secara normal sebagaimana kebiasaan keluarga, yakni sehari makan sebanyak tiga kali. Namun, ketika orangtuanya tidak di rumah atau ketika orangtuanya sedang tidak melihatnya, sang anak mencuri-curi makanan (di rumahnya sendiri) dengan memakanya secara cepat sebagaimana orang yang sudah tiga hari tidak makan. Hal ini dilakukan sang anak agar dapat menyelesaikan makan sesegera mungkin dan tidak ketahuan orangtuanya.
Dari dua contoh di atas, cara yang dilakukan orangtua dalam mengatasi anaknya yang bermasalah ternyata tidak efektif. Sang anak memang menuruti apa yang menjadi harapan orangtuanya, akan tetapi tidak berangkat dari kesadarannya. Sang anak berubah karena takut kepada orangtuanya yang memarahinya, membentaknya, atau bahkan memukulnya. Menurut sebagian pemahaman para orangtua kita di zaman dahulu, cara seperti ini adalah cara yang paling efektif, katanya. Tetapi, satu hal yang harus diakui, cara seperti ini akan meninggalkan kesan yang menakutkan pada diri sang anak. Bila sudah begini, ada hal yang terkebiri pada diri sang anak, baik itu potensi, kemerdekaan, atau bahkan sang anak malah belajar kekerasan dan kehilangan rasa kasih sayang dalam dirinya.
Ada tiga prasyarat yang harus dipenuhi oleh setiap orangtua agar dapat mengatasi anaknya yang sedang bermasalah secara efektif, yakni:
1. Bersikap Tenang
Orangtua yang panik atau malah kebingungan tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang terjadi pada anaknya dengan baik. Kepanikan ini biasanya terjadi ketika sang orangtua tiba-tiba melihat sebuah kenyataan bahwa anaknya ternyata bermasalah. Sungguh, sang orangtua tidak menyangka sebelumnya akan ada kejadian yang tidak diinginkan menimpa anaknya. Di sinilah dibutuhkan ketenangan agar dapat mengurai masalah dengan baik dan mencari jalan keluarnya.
2. Berbuat Sepenuh Kasih dan Sayang
Hal yang paling penting di dalam mengatasi anak yang bermasalah adalah berbuat sepenuh kasih dan sayang. Rasa kasih dan sayang ini hendaknya mendasari setiap langkah yang ditempuh oleh orangtua dalam mengatasi anaknya yang bermasalah. Jadi, bukan karena rasa malu, demi kehormatan keluarga, apalagi didorong oleh kemarahan tertentu.
3. Memahami Anak Sebagai Pribadi yang Berkembang
Memahami anak sebagai pribadi yang berkembang yang dimaksudkan di sini adalah setiap anak mempunyai tahapan demi tahapan dalam berkembang. Sudah tentu, tahapan perkembangan anak sangat berbeda dengan cara berpikir dan memahami segala sesuatu yang dimiliki orangtuanya. Dalam hal ini, orangtua tidak bisa memaksakan kehendak terhadap anaknya agar mengikuti cara berpikir dan memahami sesuatu sebagaimana orangtuanya. Jika memang orangtuanya menghendaki sang anak melakukan apa yang menjadi harapannya hendaknya disesuaikan dengan tahapan perkembangan sang anak.
Demikianlah tiga prasyarat yang harus dimiliki orangtua ketika akan mengatasi masalah yang terjadi pada anaknya. Hal penting yang harus dipahami adalah mengatasi masalah yang satu dengan yang lainnya tidak jarang dibutuhkan pendekatan yang berbeda karena jenis dan penyebab masalahnya pun berbeda. Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi segenap orangtua agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara menyenangkan dan sesuai dengan harapan orangtua dan keluarga.
NB: Catatan diatas sangat bagus diterapkan bagi setiap orangtua dalam mendidik. sebab dengan menulis hal seperti ini saya jg bisa belajar dan mengerti cara mendidik yg baik seperti apa... sebab meskipun saya sndri sekarang blm menjadi orangtua yang sesungguhnya tapi saya punya tanggung jawab yg besar dalam mendidik persekutuan Kaum Remaja saya yang ada di gereja,,, yang notabene karaktar mereka masih sangat labil... so, keterangan diatas bukan diperuntukan bagi anak yg masih umur kurang dari lima tahun, tetapi selama kita mempunyai anak atau anggota yang harus kita didik mjd pribadi yg lebih baik.... GB us...
Facebook (Herlina Sanda)
Namun, apabila anak tumbuh dan berkembang tidak sesuai dengan yang diharapkan, misalnya, susah makan, rewel, mudah memberontak, atau kalau sang anak sudah mulai besar ia suka berbohong, mencuri, menakali teman, atau malas belajar, tidak jarang orangtua kebingungan bagaimana cara mengatasinya. Ketika sekali atau dua kali orangtua menasihati anaknya dan anaknya tetap tidak berubah, tak sedikit pula orangtua yang justru memarahi anaknya, memberikan hukuman, atau bahkan memukul sang anak. Ketika keadaan sudah begini, tidak banyak dari orangtua yang bisa berpikir dengan tenang untuk mencari jawab mengapa anaknya menjadi bermasalah.
Anak bermasalah yang dimaksudkan di sini adalah anak yang mempunyai perilaku tidak sesuai dengan keinginan atau harapan orangtua yang berkesesuaian dengan nilai-nilai yang dianut oleh orangtua, keluarga, atau bahkan lingkungan. Di dalam menangani anak bermasalah apakah dibenarkan melalui cara, misalnya, memarahi anak, mengurung anak, atau bahkan memukulinya? Sudah tentu, cara-cara tersebut tidak dapat dibenarkan, di samping termasuk “kejahatan terhadap anak”, cara tersebut juga tidak efektif untuk mengubah perilaku anak bermasalah menjadi baik. Jika memang berubah menjadi baik, perubahan yang terjadi akan menyimpan kesan buruk dalam diri anak, atau perubahan itu tidak berlangsung lama karena tidak berangkat dari sebuah kesadaran.
Ada seorang anak yang suka mengambil uang orangtuanya secara diam-diam (mencuri) untuk tambahan jajannya atau untuk bermain game online di warnet (warung internet) dekat rumah. Pada saat orangtuanya mengetahui bahwa yang mencuri uangnya adalah anaknya sendiri, maka sang orangtua memarahi habis-habisan sang anak, bahkan memukulnya. Untuk beberapa waktu sang anak anak memang jera dan tidak mau mencuri lagi karena takut kepada orangtuanya. Namun, apakah perilaku bermasalah anaknya selesai begitu saja? Ternyata, sang anak beralih untuk mengambil uang temannya. Hal ini bisa terjadi barngkali sang anak berpikir jika mengambil uang temannya lebih aman karena temannya tidak segalak orangtuanya ketika marah.
Ada pula seorang anak yang mempunyai kebiasaan makan banyak. Orangtuanya memarahinya dengan sangat karena sang orangtua tidak menginginkan anaknya semakin bertambah berat badannya. Sang anak memang telah mengalami berat badan yang berlebih alias kegemukan. Di depan orangtua, sang anak memang makan secara normal sebagaimana kebiasaan keluarga, yakni sehari makan sebanyak tiga kali. Namun, ketika orangtuanya tidak di rumah atau ketika orangtuanya sedang tidak melihatnya, sang anak mencuri-curi makanan (di rumahnya sendiri) dengan memakanya secara cepat sebagaimana orang yang sudah tiga hari tidak makan. Hal ini dilakukan sang anak agar dapat menyelesaikan makan sesegera mungkin dan tidak ketahuan orangtuanya.
Dari dua contoh di atas, cara yang dilakukan orangtua dalam mengatasi anaknya yang bermasalah ternyata tidak efektif. Sang anak memang menuruti apa yang menjadi harapan orangtuanya, akan tetapi tidak berangkat dari kesadarannya. Sang anak berubah karena takut kepada orangtuanya yang memarahinya, membentaknya, atau bahkan memukulnya. Menurut sebagian pemahaman para orangtua kita di zaman dahulu, cara seperti ini adalah cara yang paling efektif, katanya. Tetapi, satu hal yang harus diakui, cara seperti ini akan meninggalkan kesan yang menakutkan pada diri sang anak. Bila sudah begini, ada hal yang terkebiri pada diri sang anak, baik itu potensi, kemerdekaan, atau bahkan sang anak malah belajar kekerasan dan kehilangan rasa kasih sayang dalam dirinya.
Ada tiga prasyarat yang harus dipenuhi oleh setiap orangtua agar dapat mengatasi anaknya yang sedang bermasalah secara efektif, yakni:
1. Bersikap Tenang
Orangtua yang panik atau malah kebingungan tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang terjadi pada anaknya dengan baik. Kepanikan ini biasanya terjadi ketika sang orangtua tiba-tiba melihat sebuah kenyataan bahwa anaknya ternyata bermasalah. Sungguh, sang orangtua tidak menyangka sebelumnya akan ada kejadian yang tidak diinginkan menimpa anaknya. Di sinilah dibutuhkan ketenangan agar dapat mengurai masalah dengan baik dan mencari jalan keluarnya.
2. Berbuat Sepenuh Kasih dan Sayang
Hal yang paling penting di dalam mengatasi anak yang bermasalah adalah berbuat sepenuh kasih dan sayang. Rasa kasih dan sayang ini hendaknya mendasari setiap langkah yang ditempuh oleh orangtua dalam mengatasi anaknya yang bermasalah. Jadi, bukan karena rasa malu, demi kehormatan keluarga, apalagi didorong oleh kemarahan tertentu.
3. Memahami Anak Sebagai Pribadi yang Berkembang
Memahami anak sebagai pribadi yang berkembang yang dimaksudkan di sini adalah setiap anak mempunyai tahapan demi tahapan dalam berkembang. Sudah tentu, tahapan perkembangan anak sangat berbeda dengan cara berpikir dan memahami segala sesuatu yang dimiliki orangtuanya. Dalam hal ini, orangtua tidak bisa memaksakan kehendak terhadap anaknya agar mengikuti cara berpikir dan memahami sesuatu sebagaimana orangtuanya. Jika memang orangtuanya menghendaki sang anak melakukan apa yang menjadi harapannya hendaknya disesuaikan dengan tahapan perkembangan sang anak.
Demikianlah tiga prasyarat yang harus dimiliki orangtua ketika akan mengatasi masalah yang terjadi pada anaknya. Hal penting yang harus dipahami adalah mengatasi masalah yang satu dengan yang lainnya tidak jarang dibutuhkan pendekatan yang berbeda karena jenis dan penyebab masalahnya pun berbeda. Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi segenap orangtua agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara menyenangkan dan sesuai dengan harapan orangtua dan keluarga.
NB: Catatan diatas sangat bagus diterapkan bagi setiap orangtua dalam mendidik. sebab dengan menulis hal seperti ini saya jg bisa belajar dan mengerti cara mendidik yg baik seperti apa... sebab meskipun saya sndri sekarang blm menjadi orangtua yang sesungguhnya tapi saya punya tanggung jawab yg besar dalam mendidik persekutuan Kaum Remaja saya yang ada di gereja,,, yang notabene karaktar mereka masih sangat labil... so, keterangan diatas bukan diperuntukan bagi anak yg masih umur kurang dari lima tahun, tetapi selama kita mempunyai anak atau anggota yang harus kita didik mjd pribadi yg lebih baik.... GB us...
Facebook (Herlina Sanda)
Senin, 07 Maret 2011
Jumat, 25 Februari 2011
Bertahan ditengah segala kesedihan dan kesusahan karena yang sesuatu yang BAIK pasti TERJADI
Hai Guysss,,,,
Gotten Morgan,,,
Hari ini hari yang begitu cerah,,, terik matahari memanasi suasana hati yang bisa dibilang lagi kalut, sedih, pikiran yang masih aja terus berfikir, entah apa yang terjadi di pagi ini, tiba-tiba saja harus terjadi,,,
Kadang aku berfikir betapa tidak berharganya hidupku, dan rasanya semuanya tidak ada yang memihak padaku meskipun itu suatu hal yang benar. Aku tahu dengan aku berkata demikian sama saja aku tidak mensyukuri apa yang sudah TUHAN berikan padaku.,,, tapi itulah manusia,,, aku hanya menuangkan apa yang menjadi uneg-uneg ku, dan curhatan ku di dalam BLOG ini,, mungkin bagi yang membacanya ada yang bilang BLOG ini tidak jelas,,, ada yang bilang ah CeMen,, ada yang bilang, NoRak dll.
Satu hal biarpun airmata ini terus menerus mengalir,,, aku hanya bisa berdoa dalam hati, dan hanya bisa berkata dan curhat sama TUHAN ku juga yaitu YESUS,,, aku akan berkata
" BAPA Engkau tahu segala kekuranganku, Engkau juga tahu, aku adalah milikMu dan begitupun sebaliknya, dan Engkau juga tahu kalo aku hanya bisa HIDUP karena Engkau. maka dari itu Tuhan aku mau berdoa agar hatiku ini tetap terjaga terhadap Engkau, jauhkan dari segala hal yang tidak berkenan kepadaMu baik itu iri dengki, sakit hati, akar pahit yang berkepanjangan dll, agar namaMu tetap kumuliakan dan aku bisa mempertanggungjawabkan setiap kehidupanku terhadapMu, karena Tubuh ini adalah BaitMu Bapa, dan mau terus mengasihi dengan orang-orang yang ada disekeliling ku, yang sudah mencintaiku,baik itu Bapa, adik2ku, abangku, sanak keluarga, sahabat2 dan semuanya yang sudah Engkau berikan padaku, sebab Engkau terlebih dahulu mengasihiku,,,, Amin"
Ya itulah yang merupakan Doa2ku & Isi curhatan dari Blog ini untuk semua orang yang aku kasihi,,,,
Praise The LORD,,,,
herlinasanda.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)

